Resiko Menjalani Operasi Caesar Bagi Ibu dan Bayi

Artikel Informasi Kesehatan Oleh Kesehatan Ibu dan Anak on Senin, 07 Mei 2012 | 07.45

Home » Anak , Ibu » Resiko Menjalani Operasi Caesar Bagi Ibu dan Bayi

Resiko Menjalani Operasi Caesar Bagi Ibu dan Bayi
Operasi Caesar
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Resiko Menjalani Operasi Caesar Bagi Ibu dan Bayi - Bedah caesar adalah salah satu pilihan metode persalinan yang dapat menimbulkan risiko, baik bagi ibu maupun bayi. Namun tak sedikit yang masih berasumsi bahwa metode ini aman dan tidak akan memicu risiko kesehatan khususnya bagi bayi.

Sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa bedah caesar tetaplah merupakan suatu prosedur persalinan yang sangat berisiko khususnya bayi.  Bahkan bedah caesar juga dinilai tidak banyak menolong bayi prematur yang tergolong small for gestational age (SGA) atau ukuran dan bobot badannya di bawah rata-rata. Penelitian di Amerika Serikat mengatakan bahwa bayi SGA yang dilahirkan melalui proses persalinan caesar mencatat kasus yang lebih tinggi sindrom gangguan pernafasan ketimbang bayi prematur yang lahir melalui vagina (normal).

Wakil direktur medis lembaga advokasi March of Dimes, Diane Ashton, MD, MPH, menyatakan temuan ini membalikkan kepercayaan selama ini bahwa persalinan caesar memiliki sedikit risiko atau bahkan tak menimbulkan risiko bagi kesehatan bayi.  Hasil penelitian ini juga sejalan dengan misi March of Dimes yang mendesak para tenaga medis untuk mengakhiri praktik persalinan yang tak perlu sebelum usia kehamilan mencapai 39 minggu.
"Meskipun dalam banyak contoh, operasi caesar secara medis diperlukan untuk kesehatan bayi atau ibu, penelitian ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus cara ini tidak bermanfaat untuk beberapa bayi," kata Ashton.

Riset yang dipublikasikan dalam 32nd Annual Society for Maternal-Fetal Medicine Meeting, The Pregnancy Meeting ini dipimpin oleh Erika Werner F., MD, MS, asisten profesor Maternal Fetal Medicine di Johns Hopkins School of Medicine, yang bekerjasama dengan Heather S. Lipkind, MD, MS, asisten profesor Maternal Fetal Medicine di Yale School of Medicine.

Dalam risetnya, peneliti melakukan review akte kelahiran sebanyak 2.560 bayi dengan ukuran dan berat badan kecil yang lahir secara prematur. Proses persalinan secara caesar umumnya dilakukan pada bayi-bayi yang didiagnosis mengalami hambatan pertumbuhan intrauterin yang tidak berkembang secara normal di dalam rahim.

Dr Werner dan timnya menemukan bahwa bayi yang menjalani operasi caesar saat usia kehamilan belum memasuki 34 minggu memiliki kemungkinan risiko 30 persen lebih tinggi mengalami sindrom gangguan pernafasan ketimbang bayi yang lahir melalui vagina pada usia kehamilan yang sama.

Tingginya angka kelahir prematur (sebelum 37 minggu), masih menjadi masalah kesehatan yang cukup serius dan menelan biaya sangat besar di Amerika Serikat, lebih dari 26 miliar Dollar AS per tahun, menurut laporan Institute of Medicine 2006. Ini adalah penyebab utama kematian bayi baru lahir, dan satu juta bayi di seluruh dunia meninggal setiap tahun sebagai akibat lahir secara prematur.

Sementara pada bayi yang mampu bertahan hidup, umumnya sering menghadapi masalah kesehatan seumur hidup, seperti masalah pernapasan, cerebral palsy, ketidakmampuan belajar dan lainnya.

Para peneliti dari The March of Dimes mengatakan, jika kondisi kehamilan sehat dan tidak ada komplikasi yang mengharuskan lahir lebih awal, wanita harus menunggu sampai waktu persalinan itu tiba dengan sendirinya, atau setidaknya sampai usia kehamilan memasuki 39 minggu.

Mengapa? peneliti berangapan bahwa banyak organ penting bayi, seperti otak dan paru-paru, yang belum sepenuhnya berkembang sempurna pada usia kehamilan dibawah 39 minggu - Resiko Menjalani Operasi Caesar Bagi Ibu dan Bayi.

Artikel Terkait