Tulang Lebih Kuat Jika Tidak Merokok

Artikel Informasi Kesehatan Oleh Kesehatan Ibu dan Anak on Jumat, 27 Juli 2012 | 17.24

Home » Umum » Tulang Lebih Kuat Jika Tidak Merokok

Tulang Lebih Kuat Jika Tidak Merokok
Ilustrasi
Artikel Informasi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Tulang Lebih Kuat Jika Tidak Merokok - Kebiasaan merokok tak cuma merusak jantung dan paru-paru saja, sebab tulang juga menjadi lebih cepat keropos. Racun-racun di dalam asap rokok terbukti mempercepat penyerapan kembali tulang lama, dan menghambat pembentukan tulang baru.

Hubungan antara rokok dengan risiko pengeroposan tulang atau osteoporosis sebenarnya sudah lama menjadi perhatian para ahli. Namun bagaimana keduanya bisa saling berhubungan, sejauh ini belum banyak diteliti karena lebih banyak yang meneliti efeknya pada jantung dan paru-paru.

Dalam sebuah penelitian terbaru yang dimuat di Journal of Proteome Research, efek racun dalam asap rokok yang bisa merusak kesehatan tulang itu akhirnya terungkap. Ketika terhirup ke dalam tubuh, racun-racun itu mempengaruhi aktivitas 2 protein yang berhubungan dengan proses pembentukan tulang.

Kedua protein yang dimaksud adalah osteoblast dan osteoclast. Protein osteoblast bertanggung jawab membentuk tulang baru, sedangkan osteoclast bekerja berlawanan yakni menghancurkan dan menyerap kembali tulang-tulang lama untuk digantikan dengan tulang baru.

Pada perokok, Gary Guishan Xiao yang memimpin penelitian ini melihat bahwa aktivitas osteoclast cenderung meningkat sementara osteoblast justru melambat. Artinya seperti dikutip dari Sciencedaily, Jumat (27/7/2012), penghancuran dan penyerapan kembali tulang lama terjadi lebih cepat daripada pembentukan tulang baru.

Hasil pengamatan terhadap faktor genetik pada sejumlah perokok yang kemudian dibandingkan dengan non perokok ini juga telah dikonfirmasi melalui eksperimen pada tikus. Dalam eksperimen tersebut, tikus yang terpapar asap rokok memang mengalami pengeroposan tulang yang lebih cepat.

Pengeroposan atau berkurangnya massa tulang merupakan keluhan yang selama ini lebih banyak dikaitkan dengan kekurangan kalisum saja. Akibat massanya berkurang, tulang yang keropos jadi lebih rentan mengalami keretakan atau patah saat terjadi cedera. -

Artikel Terkait